Friday, June 11, 2010

diagnosa


Saya hanya terdiam ketika mendengar setiap keluhan yg terucap dari mulutnya..sempat kualihkan mukaku darinya sekedar untuk menghilangkan fokusku supaya tidak mendengarkan setiap perbincanganya bersama seseorang dibalik hand phonenya tersebut. Namun setiap perkataanya membuatku sesekali merinding dan merasa sedih.

Yah…ini kisahku tadi siang, tak sengaja saya bergegas pergi dan menaiki sebuah angkutan kota, kira-kira pukul setengah tujuh malam saya berada dipojok mobil itu dan seorang wanita yang sedang memakai seragam putih abu duduk tepat berhadapan denganku. Dan tiba-tiba handphonenya menyentakkan sebuah nada dan segera wanita itu mengangkatnya..dari raut wajahnya kulihat nampak penting seseorang yang ada dibalik telepon itu..siapakah? pikirku. Namun apa yang menjadi kepentinganku atas wanita ini?!..saya pun mulai menolehkan mukaku dan melemparkan pandanganku pada jalan raya yang mulai diselimuti kegelapan dengan cahaya-cahaya mobil yang menyorot setiap pikiranku yang tidak karuan dan juga suara deruan yangmuncul dari perutku tidak henti-hentinya menyindirku dan ingin segera makan.

Namun sosok wanita itu selalu mengalihkan pandanganku dan selalu saja membuat telingaku gatal ingin mendengar percakapannya dengan seseorang yang ada dibalik telepon itu. Huh…akhirnya sayapun mulai mendengar dan mencoba mengerti semua percakapannya..meski rasanya ini tidak sopan,tapi tak apalah..lagian dia kan tidak tahu kalau saya sebenarnya sedang mendengarkan percakapannya dengan seteliti mungkin.

Dan mulai saya diam dan pura-pura menunduk untuk mendengarkan seorang wanita pelajar yang baru pulang dan dengan asiknya bercakap-cakap dengan seseorang, dan wanita itu berkata…..



“ya…,kenapa dok..?” (wah ternyata dia bicara dengan seorang dokter..pikirku)

“maaf ya dok tadi saya ga control, habisnya males..bosen tiap hari harus kesana”

“lagian untuk apa juga datang,kalau pada akhirnya saya ga bisa sembuh”

“udah lah dok..jangan paksa saya..”

“saya cuma ingin coba seminggu ini aja untuk ga control dan ga minum obat”

“saya rasa saya masih bisa bertahan..yah palingan kalau nanti kambuh saya telepon dokter aja ya..”

“dok, jangan bilang mamah kalau saya ga control ya..hhe”

“dok, sebenernya saya tahu kalo obat-obat yang dokter kasih kesaya cuma untuk ngurangin rasa sakit kan?”

“saya pengen dosisnya ditambahin boleh ga..soalnya udah ga kerasa efek apa-apa dok”



Sebentar-sebentar saya mulai memahami kondisi wanita ini, dan tiba-tiba saya merasa sedih..sedih yang agak dalam. Saya pun bingung mengapa saya tiba-tiba marasakan ini. Dan saya melanjutkan untuk mendengarkan percakpannya dengan dokter yang ada dibalik telepon terserbut…



“dok, saya cape kalau saya harus begini terus…”

“dok kapan ya saya bisa sembuh”

“dok..saya siap koq kalau saya ga sembuh juga”



Tiba-tiba saja saya benar-benar ingin menangis ketika berbica begitu. Dan seketika itu saya mulai sadar bahwa tempat yang saya tuju sudah dekat. Dengan tangan lemas saya mengambil uang untuk bayar ongkos dan muka saya pun mulai sedikit sedih dengan menahan agar saya tidak menangis dengan tidak jelas.

Setelah saya turun dari mobil tersebut, saya hanya bisa merenung dan kembali mengingat-ingat percakapan yang baru saja saya simak.

Hmmmmm…saya manarik nafas begitu panjang, pikirku..seorang wanita pelajar yang begitu masih mudanya sudah didiagnosa sebuah penyakit yang mungkin tidak bisa sembuh. Entah apapun penyakitnya tapi itu adalah sebuah musuh untuk semua tubuh ciptaan-Nya. Saya jadi merasa sangat bersyukur dengan tubuh saya yang sehat dan sempurn. Tersentak saya mengingat teman-teman saya yang sampai saat ini masih mengidap sebuah penyakit dalam tubuhnya. Betapa sakitnya tubuh mereka bahkan hati mereka yang lebih sakit, karna mungkin sesekali mereka berpikir bahwa Tuhan tidak adil untuk mereka, meski sebenarnya itu adalah sebuah kesalahan dalam berpikir. Saya jadi ingat dan ingin bertemu dengan teman-teman saya yang beberapa diantara mereka mengidap sakit tumor, kangker, liver dan seseorang yang hingga kini tidak mau menyebutkan penyakit dalam tubuhnya..mungkin menurutnya ini terlalu parah atau mungkin dia menganggapnya tidak prelu ada orang yang tahu. Hai teman..saya mengasihi kalian, mungkin terlalu bosan kalian mendengar perkataan ‘cepat sembuh’ tapi rasanya tidak ada kata lain yang bisa terucap untukmu.


Andai saja kalian saat ini ada disampingku..saya hanya ingin memelukmu dan berkata bahwa Tuhan tetap adil untuk kalian dan terakhir kata yang ingin kuucapkan adalah “selamat sembuh”

No comments: