Apa yang kau katakan tentang diriku saat ini? Maaf, jika tidak ada senyum tulus dariku, telah banyak waktu yang kuhabiskan dengan terdiam. Mungkin saja kau tau, apa yang sebenarnya membuatku seperti ini. Aku hanya ingin ketenangan. Sempat aku tidak kuat dengan setiap kondisi ini, mungkin kau pun tau.
Banyak yang kau tau tentang ceritaku, tapi maaf jika kali ini aku tak bisa tersenyum tulus untukmu. Ijinkan aku sejenak bersandar dibahumu..
Karna aku (tidak) lelah..
Terima kasih untuk setiap perkataanmu yang kembali memberi arti sebuah semangat bagiku. Aku tahu, aku tidak berjuang sendiri. Aku sangat merasakan doa yang kau beri untukku, meski kau tidak pernah mengatakannya.
Aku cukup (tidak) lelah, rasanya kelelahanku saat ini sudah tak tertahankan. Aku tau kau tidak pernah mengumbar perhatianmu tapi pengertianmu cukup membuatku mengerti. Maaf, jika air mataku membasahi bahumu, tapi ini cukup membuatku mengerti siapa dirimu. Meski kondisi sangat memeras tenagaku, menyita air mataku, menggores setiap perasaanku..tapi kehadiranmu cukup menenangkanku.
Aku mengerti bahwa segala sesuatu indah pada waktunya, meski kini belum kutemui waktu-waktu itu, tapi kepercayaanku yang membuataku telah merasakannya.
Aku mengerti bahwa segala sesuatunya terjadi atas perkataan Tuhan, bukan perkataan manusia. Semuanya telah terjadi, meski rasanya bagai ombak yang mencekam..tapi semuanya mendatangkan kebaikan.
Saat ini dirimulah yang menjadi saksi bahwa aku telah berserah atas segala sesuatu yang telah Tuhan rencanakan.
Terima kasih karna kau selalu menemani aku dalam langkah-langkah yang sulit, tapi kehadiranmu membuatku tidak putus asa, bahkan jika suatu waktu kau tidak lagi menemaniku..aku akan tetap setia dengan rencana-Nya…
"Saya sedikit terkejut ketika melihat sesosok pria yang duduk diujung jok sebuah angkot..mukanya sangat jelas saya kenali, dan tiba-tiba jantung saya terasa cepat berdetak dan menarik nafas dalam-dalam. Segera saya sms orang tersebut (untuk memastikan) apakah orang yang ada di angkot sebelah itu adalah dia, tiba-tiba sms pun dibalas..jauh dari dugaan saya, ternyata dia sedang berada jauh dan orang yang ada diangkot itu bukan dia. Cukup sedih, karena jika itu adalah dia mungkin saya segera turun dan menghampiri dan mengajak dia ngobrol. Anda tahu, mengapa saya begitu mengharapkan bisa mengobrol dengannya? Tidak seorang pun yang tahu tentang sebuah perasaan yang sampai sekarang masih saya pendam. Saya cukup mengaguminya dan selebihnya. Dia cukup menyita ruangan dihati saya yang sempit ini. Terlalu banyak kertas yang saya coret-coret dengan tulisan sebuah nama, yaitu nama dia. Oh, Tuhan sampai kapan ini terungkap? tapi disisi semua itu, saya cukup menyimpan banyak kekecewaan..karena saya cukup tahu semua tentang hidupnya termasuk wanita yang dia sukai, ini cukup menusuk saya."
Apakah anda tahu tentang arti 'cinta tulus' ? Cinta tulus adalah cinta yang tidak pernah dibatasi dengan apapun, kekecewaan tidak akan pernah menghentikan rasa kasih tersebut. Ketulusan tidak pernah memaksa, termasuk memaksa untuk dia bisa menerima kita..perih tapi itulah ketulusan. Ketulusan tidak pernah membenci, meski suatu kali dia begitu terpesona terhadap orang lain didepan kita sendiri. Dan ternyata ketulusan pun yang akhirnya menjagai kesetiaan kita, ketulusan akan membuktikan sebuah kesetiaan yang teruji. Mungkin tidak ada yang tahu kita tulus dan setia termasuk dia, tapi ingatlah Tuhan menghargai dan melihat itu sangat tajam.
Meski terluka, kecewa, perih tapi tetaplah setia mengasihi, karena itulah ketulusan cinta.
Bermula dari sebuah air mata yang tidak segaja menetes ketika sebuah telinga mendengar sebuah kata perpisahan. Mungkin memang seharusnya sebuah pertemuan itu berakhir dalamsebuah perpisahan. Tapi aku yakin suatu kelak aku akan menemukan sebuah pertemuan yang tidak pernah berakhir, dimana dan dengan siapakah itu? Entahlah..biarkan ini menjadi sepenggal harapan yang mendatangkan sebuah senyuman tulus dari mulutku.
Aku, kamu dan dia memang harus berpisah, tapi aku yakin tali hubungan kita tidak ada yang dapat memudarkannya. Sekian lama waktu yang telah kita lalui, tidak terasa kita telah sibuk dengan dunia kita masing-masing, meski aku pun sebenarnya tidak tahu bagaimana dan apa yang sedang kalian alami. Aku ingat benar, ketika semua murid dikelas sangat mengenali kita bahkan sangat segan untuk mendekati kita. Karena pergaulan kita yang cukup tidak baik dan kenakalan yang membuat kita sedikit berani dalam memberontak. Mungkin saja mereka telah menyebut kami pemberontak, karena ketidak pedulian kami dengan sekitar dan tidak mau tau dengan setiap tanggung jawab yang seharusnya kami kerjakan.
Selang beberapa tahun aku, kamu dan dia tak sedikitpun ada kabar. Namun sampai suatu hari dia dapat menghubungi dalam sebuah ponsel dan bercerita panjang lebar tentang keadaan dia, cukup membuat aku sedih karena dia masih seperti yang dulu, mengeluh tentang keluarga dia yang sering menyakiti dan seorang ayah yang tidak bertanggung jawab dan menelantarkan dia dan ibunya. Aku pikir hal ini akan berakhir tiga tahun yang lalu, tapi rasanya pelangi indah itu belum juga menghiasi hidupnya, mungkin esok,lusa atau kapan pun itu, yang pasti aku menginginkan seperti apa yang dia inginkan
Tepat diwaktu-waktu yang sama kamu dapat menghubungiku tanpa sepengatahuanku dari arah manakah kamu tahu keberadaanku. Dan aku lebih sedih ketika tahu tentang percikan kaca-kaca dalam hidupmu yang menggoreskan banyak luka dan harus memaksa kamu untuk memutuskan keputusan yang salah, aku tahu sebenarnya kamu tidak ingin dalam titik ini, lagi-lagi air mataku hanya menetes ketika kamu bercertita tentang semua kegagalan kamu dan semua keterpurukan kamu, aku hanya berharap kamu bisa menemukan pelangi indah dalam hidupmu seperti harapanku juga pada dia.
Kamu dan dia sama-sama membuatku berfikir cukup keras, bagaimana caranya kita menemukan pelangi indah itu.
Namun lagi-lagi waktu memisahkan kita, entah mengapa kita terhilang dengan begitu saja. Aku hanya diam memikirkan kamu dan dia, berharap ketika kita berjumpa lagi, pelangi itu telah menghiasi hidup kamu dan dia.
Dan saat ini juga, aku telah mendapat cerita tentang kamu dan dia dan bukan dari angin atau hembusan, namun kamu dan dia yang akhirnya dapat menjumpai aku kembali. Cukup senang dan terharu karena Tuhan sangat mempeduikan pertemuan aku, kamu dan dia.
Tapi lagi-lagi mengapa pelangi indah itu tidak kunjung menghampiri hidup kamu dan dia. Sebenarnya ingin aku bercerita tentang sebuah pelangi yang indah itu, karena aku telah melihatnya, dan betapa indahnya pelangi itu meski rasanya sulit mendapatkannya, tapi jujur saja, aku telah menemukannya sejak kita terpisah. Mengapa hingga waktu yang panjang ini kamu dan dia masih juga belum menemukannya?
Hatiku cukup tergores-gores bahkan hanya terdiam dalam kesesakan ketika semakin mendengar cerita tentang batu-batu dan daun kering yang mengganggu hidup kamu dan dia.
Meski “kamu” masih terus merasakan kesakitan atas keluargamu, dan “dia” yang terlalu terikat dengan dunia malamnya
Tulisan ini aku tulis untuk semakin mengingatkan hatiku, bahwa kamu dan dia masih memiliki harapan untuk melihat pelangi indah itu.. pelangi indah itu adalah sebuah pemulihan
Sulit mau memulainya dari mana, tapi yang pasti ini hanyalah awal yang sangat meyakinkan hatiku.
Berawal dari sejak lama, aku mengenalnya dan semakin mengenalnya hanya sebagai teman. Cukup menarik setiap sikapnya, meski suatu kali pernah aku dibuatnya kecewa. Tanpa sadar terkadang perkataanya membuatku cukup sedih. Pernah suatu kali aku mempercayakan sesuatu tapi kembali ia tidak sadar dengan sikapnya yang sering mengecewakan.
Hari ini mungkin, kesekian lamanya akhirnya pertemanan kita teruji. Setiap kekecewaan tidak pernah kami diamkan, tapi membereskanya dan tidak pernah ada kesakitan dalam hati yang kami pendam, itulah pertemanan.
Tidak terbayang kalau suatu waktu aku harus bercerita tentang seseorang yang mungkin aganya special dihati aku. Sulit untuk terbuka tentang satu hal ini kepada dia, karena terlalu banyak alasan yang akhirnya membentengiku untuk bercerita.
Teman, sebenarnya aku ingin sekali berbagi tentang hal ini, tapi mungkin aku hanya dapat bercerita dengan jariku ini..mulai mengetiknya dan memberikan ini padamu agar aku bisa bersembunyi saat kamu membacanya, inilah hal yang mungkin tidak terlalu penting untuk kamu tapi cukup memeras waktu dipikiranku untuk memikirkannya dan menganggap ini cukup penting dalam hidupku.
Yah, ini tentang ketertarikanku pada seorang laki-laki. Yang tidak berwajah sangat tampan, namun karakternya membuatku bisa melupakan setiap kesalahan. Apa yang dikatakannya terkadang secara tidak sadar akan kuikuti, apakah setiap nasihatnya cukup membuatku akan dewasa?. Dia yang kutemukan dalam mimpi dan harapan, akankah cukup peka dengan perasaan ini?. Aku ingin menjadi yang terbaik untukmu, itulah yang selalu ingin terkatakan dariku. Jika kamu bertanya ‘apakah kamu yakin dengan pilihanku ini?’..ya !! aku cukup yakin, bahkan aku cukup sabar untuk menantinya. Tapi satu hal, ini baru keyakinanku bukan keyakinan yang berasal dari Tuhan, tapi sampai saat ini aku yakin bahwa Tuhan akan menyampaikan sesuatu dalam hatiku tentang hal ini. Dia atau bukan, yang penting aku punya ‘penyerahan total’. Aku percaya ketika aku punya penyerahan total, aku akan bisa menerima siapa pun yang Dia tetapkan untuk mendampingi hingga disisa umurku.
Karakternya cukup teruji, itulah yang membuatku tertarik. Kerendahan hatinya yang membuatku bisa semakin menghargai perkataannya. Kecintaannya kepada Tuhan yang membuatku yakin bahwa dia bisa mencintaiku dengan tulus.
Sampai suatu malam, aku melukis cerita dalam sebuah mimpi tentang dia.
Teman, tapi ada satu hal juga yang aku takuti..tapi tidak mungkin aku menceritakannya saat ini, mungkin ada saatnya aku bercerita tapi tidak untuk kali ini.
spontan cuma bilang "hari apa ini?" padahal udah jelas-jelas saya tahu bahwa ini hari Senin tanggal 19 Juli 2010. Tapi kejadian hari ini agak membuat saya sedikit jengkel. Sedikit mau bercerita tentang hari ini, pagi-pagi bangun jam 06.30 (maklum pengangguran) dan langsung beres-beres rumah. Karna kerjaan udah pada beres, saya mulai menghidupkan laptop dan mulai menjelajah dunia lewat layar datar didepan muka saya. Ga kerasa udah jam 15.00 waktunya untuk bergegas dan siap-siap kuliah, dan dalam hati saya hanya menegaskan pada diri saya sendiri bahwa hari ini kudu kuliah karna minggu depan udah UTS. Tapi begitu saya mau mandi, ngantuk berat mulai merajai mata saya. Dan rasanya ini udah ga bisa ditahan, hmmm..kuliah kan masuk jam 17.00 dan karna kuliah saya kelas malam jd kalo telat ga akan kena sanksi apa-apa, ya udah saya mulai berbaring dan berencana tidur sampe jam 16.00 lumayanlah sejam tidur.
Astaga.....! jam 17.00, kelebihan sejam tidurnya euy..langsung buru-buru kekamar mandi bukan untuk mandi tapi cuma cuci muka dan ganti baju alias kaga mandi karna udah mepet banget.
Sukarno-Hatta lewat....Samsat lewat....Binong lewat..... Dan begitu sampai daerah Kiara condong..tiba-tiba macet dan macet lebih macet... Kunaon ieu ey...ga biasanya sampe segini, biasanya cuma 1/2 jam saya dijalan dan sampai dikampus..tapi ini udah 1 setengah jam berlalu. Wah, langsung saya sms teman kuliah saya dan menyakan apakah dosennya sudah mengajar, dan jawabnya adalah 'udah selesai' dan saya berfikir ya udah deh saya ikut kuliah yang jam ke-2 kan mulainya jam 19.00. Ternyata dosen jam ke-2 tidak hadir...halah, mo ngapain jadinya..akhirnya saya turun dari angkutan kota karna sudah pusing 2jam berada diangkot dan mampir ke supermarket buat beli obat jerawat berhubung jerawat saya lagi kambuh. Okey, selesai mampir..hujan deras menerpa..saya diam dipinggir supermarket sambil cemilan dan ngotak ngatik Hp..sejam nungguin hujan tapi ga reda-reda, langsung saya berlari untuk naik angkot...tapi ga ada angkot yang lewat karna macet masih menyelimuti daerah kampus saya yaitu Jl. Jakarta, ternyata selidik punya selidik dari informasi..macet merajalela di sekitar Jl. Jakarta, Kircon, Antapani, Supratman, Cicadas, Cicaheum..ampun !
Ternyata....Macet itu diakibatkan karna "lampu lalu lintas di perempatan mati". Sebenarnya ini sering terjadi, saya sering mengalami dan melihat ini, ini benar-benar terjadi dan cukup sering. Cuma saya bingung, apakah ini bagian saya juga buat mengadu kepada kepolosian dan Pemerintah Kota..Sempat saya ingin memotret kekacauan yang saya lihat barusan, tapi karna malam hari jadi hasil fotonya kurang jelas. Padahal kalau lihat aslinya, wuih saya cuma bisa kerung dan .... no comment.
Dan akhirnya saya harus berjalan sampai nemu angkot dijalan yang udah lumayan lancara..kira-kira 150 meter saya berjalan dan akhirnya menemukan angkot dan sebaliknya macet tetap bisa terhindarkan. Tiba dirumah jam 21.30. Bisa bayangin dari jam 17.00 sampai 21.30 hanya habis dijalan, ga ada hasil selain obat jerawat tadi. Huft, AADB..Ada Apa Dengan Bandung?. Yang saya tahu ini kota Bandung tercinta bukan Jakarta..dan jangan sampai seperti Jakarta.
Akhir kata untuk Pemerintah Kota Bandung yang terkasih, saya mewakili masyarakat kota Bandung ingin supaya Pemerintah bisa memperhatikan lalu lintas dikota Bandung, jangan sampai hanya menampung keluhan tapi harusnya memberikan solusi yang cepat dan tanggap. Tapi bagaimanapun...i love Bandung, i bless Bandung
Tepat jam tiga sore mereka berjanjian untuk bertemu dan sekedar ngopi bareng dan saling mengadu cerita-cerita lucu yang sudah mereka siapkan masing-masing. Ya…itulah yang menjadi kegemaran dua orang sahabat wanita itu, mereka sering menghabiskan waktu dengan ditemani suara tawa mereka yang agak berisik. Sore itu Rere lebih dulu datang dan lima belas menit kemudian Ica pun tiba. Dengan suara khas yang sedikit kasar dan tepukan pada bahunya membuatnya sedikit kesal sambil tersenyum menahan tawa. Ujarnya “kapan sih kasar lo bisa ilang Re?”
“ntar Ca kalo ‘kasar’ gue diculik baru ilang..”
“eh, kemaren kemana lo Re?Gue nunggu lo chating tapi kaga muncul-muncul, molor ya lo?
“ya eyalah Ca,ngapain lagi coba malem-malem..!”
“Re, kapan ya kita punya cantolan?!”
“nyante ajalah Ca, toh jodoh ga kan kabur..yah, kaya kita aja bisa sahabatan kaga nyangka kan?”
“nyangka aja ah Re..kita kan sama-sama preman jadi wajar aja kalo kita bisa nyambung dan endingnya jadi sahabat”
“hah,,,siapa bilang gue preman? Lo aja Ca ama keluarga lo, gue ga ikut-ikutan..!”
“eh jangan belokin diri lo Re…gw tau jelas gelagak preman lo..hahhaha”
“oia Re..by the way, gue ga pernah tau loh background lo yang sebenernya…certain donk!”
“tumben elu nanya-nanya gue Ca, ada apa neh?”
“iya, soalnya udah ga adatopic yg lucu lagi Re”
“hfh…kirain…!!”
“tapi emang bener ya Ca..kenapa ya dulu gue disebut preman? Hampir orang yang baru kenal gue, pasti pada takut ma gue..!”
“Rere…rere….mata lo aja udah preman…tau !!!”
“hahahhahaha,,,,,Ca gue dulu emang suka jailin orang abis-abisan, boongin guru, manjat sana sini, malakkin adik kelas, bringas banget lah pokonya..tapi kan itu dulu, jadi wajar kalo gue bukan disebut lagi preman!!”
“nah mending elu Re, gue sama sekali ga kaya lu, gue orang yang rajin dikelas, deket sama guru dan suka bantuin temen-temen gue, tapi kenapa gue disebut preman juga?!”
“udah lah Ca..lupain aja….ngapain coba kita bahas pandangan orang-orang yang sebenernya salah besar..”
“bener elu Re…tumben lo waras,,, !”
Sepanjang dua tahun persahabatan mereka banyak dihabiskan hanya untuk ngopi, ngobrol, tertawa dan hal-hal yang membuat mereka senang sementara.
Tapi dibalik itu semua, Rere sebenarnya tidak tau kalau latar belakang Ica broken home, ia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang masih mencari pengganti ayahnya. Orang tuanya bercerai setahun setelah mereka bersahabat, tapi tidak sedikitpun yang Rere ketahui tentang keluarga Ica. Seringkali Ica menangis karena sering bertemu ayahnya yang kerap kali menggandeng wanita yang lebih muda dari ibunya. Dirumah Ica hanyalah seorang pendiam yang hanya tersenyum ketika melihat ibunya lalu masuk kamar hanya untuk diam dan diam, dan berbeda ketika ia bertemu dengan Rere, semuanya ia sembunyikan dengan rapi. Entah merasa malu, minder, tidak percaya, terlalu berat untuk diceritakan…entahlah. Tapi itulah Ica yang sebenarnya.
Berbalik dengan keadaan Rere yang sebenarnya. Ica tidak pernah tahu kalau sebenarnya Rere mengidap sakit kanker. Rere sering tiba-tiba pamit lebih dulu pada Ica dengan alasan sakit perut, padahal Rere sudah tidak kuat menahan sakit ditubuhnya. Rere sering memaksakan pergi untuk nongkrong tapi sulit untuk dia membohongi tubuhnya yang sedang digrogoti penyakit. Setiap Rere sampai dirumah, ia langsung tiduran dipangkuan ibunya sambil menahan rasa sakitnyadan meneteskan air mata. Sempat Rere ingin bercerita pada Ica tentang keadaanya yang sebenanya tapi ia berharap bisa sembuh dan akan menceritakannya setelah ia sembuh nanti.
Tiga tahun persahabatan mereka tetap dalam keadaan yang sama. Hanya diiringi tawa diatas kesedihan mereka masing-masing. Dan sebulan kemudian ternyata Rere harus keluar negeri untuk bisa mendapatkan perawatan yang lebih intensif demi mencapai kesembuhannya, karena kanker Rere sudah stadium tiga. Rere berkata pada Ica ia harus pergi keluar negeri dengan alasan ayahnya pindah kerja, padahal ia akan berobat.
Sempat Ica merasa sedih karena Ica tidak sempat menceritakan keadaan keluarganya yang sebenarnya, sama dengan Rere yang sedih karena ia belum berani cerita tentang sakitnya.
Tiga bulan setelah kepergian Rere keluar negeri, Ica mendapat kabar dari sebuah telepon dari Ibu Rere yang mengabarkan bahwa Rere telah meninggal dunia…………………..
Persahabatan bukan bicara soal senang dan tawa saja. Tapi persahabatan yang sesungguhnya adalah ketika kita mau saling terbuka dan percaya. Jangan katakan ‘kita bersahabat’jika kita tidak pernah tahu yang sebenarnya tentang sahabat yang sering ada disamping kita. Persahabatan menjadi sempurna ketika kita memiliki waktu untuk terbuka, percaya dan mendoakan.
Jika ada penyesalan, lupakanlah itu..karena penyesalan hanyalah menyesali masa lalu, ingat anda masih memilki masa depan dan harapan…kecuali jika anda ingin menyesal kembali. Rangkullah sahabat kita ketika ia sedih, dan topanglah ketika ia lemah bahkan terjatuh. Karena untuk itulah kata ‘sahabat’ ada.